Alangkah bahagianya ibu burung hari itu. Ketika telur semata-wayangnya menetas. Satu-satunya telur yang bisa ia jaga. Karena, semua telur yang ia keluarkan dimangsa oleh hewan2 liar yang kadang singgah.

Raut wajah bahagia yang digambarkan lengkungan paruhnya, tak dapat ia sembunyikan. Ingin ia menengok wajah itu, anaknya. Anak yang begitu ia tunggu2 selama ini. “Aaah” pekiknya dalam hati. Betapa akan cantiknya anak ini dan betapa akan aku jaga anak ini, ia berbisik dalam hati. Paruhnya semakin melengkung, diam2 ia merasa baru kali ini dapat tersenyum. Dan, senyuman itu… rasanya begitu indah dan manis, seperti pelangi setelah hujan, atau dongeng2 menyejukkan yang pernah ia dengar. Ibu burung kemudian menoleh ke sarangnya, pelan2 ia bersihkan kotoran2 di sekitar sarang. Jangan sampai anaknya tidak merasa nyaman. Telah ia siapkan pula berbagai keperluan bayinya, kemudian setelah memastikan semua hal sempurna, ia mulai menatap telur tunggal itu dengan saksama, seiring telur tersebut mulai merekah retak atas kekuatan dari dalamnya.

Sebentuk kepala bayi burung kecil keluar dari sana, dari sana… sampai burung elang besar lewat, kemudian mematuk keras ibu burung, serta membawanya pergi. “Aaawaaaaa…”, itulah suara pertama yang anak burung dengar. Dengan ketakutan ia keluar, perlahan matanya kian melebar, ia begitu ketakutan, tiada ibu yang menemaninya. Lalu, diam2 ia melihat burung elang besar kian mengangkasa, dan ibunya dalam cengkeraman elang itu. Tak lama kemudian, ibu burung dihempaskannya ke bawah. Entah ke mana ibu burung mendarat, dan tewas. Yang jelas, setelah kejadian itu, ibu burung tak pernah nampak lagi, ibu burung telah tewas mengenaskan.

Singkat waktu, anak burung telah tumbuh dewasa. Ia dewasa dengan sendirinya, kehidupan keras mengajarkannya banyak hal. Ditemani teman-teman burung yang kadang singgah, ditemani nyamuk malam hari, ia hidup dengan penuh tekad. Dan tekad-nya yang paling besar adalah membalaskan dendamnya kepada elang itu, elang yang telah membunuh ibunya, yang membuat hidupnya begitu hampa tanpa kehadiran seorang ibu.

Suatu waktu, anak burung memutuskan untuk melakukan perjalanan pencarian terhadap elang yang dibencinya itu. Tanpa senjata dan tanpa strategi. Bagaimana bisa seekor burung berukuran kecil membunuh burung elang yang besar? Tetapi, apapun yang ada dalam logika pikirannya, ia halau. Ia yakin ia bisa. Tidak ada yang mustahil, sebagaimana ia hidup dari bayi hingga sebesar ini. Tidak ada yang mustahil, sebagaimana ia hidup sendirian, dan dapat bertahan. Dan, tidak ada yang mustahil, sebagaimana ia akan mengalahkan burung elang itu. Oleh karenanya, hal pertama yang harus ia mulai adalah mencari targetnya, burung elang itu terlebih dahulu.

Lelah, itulah yang anak burung rasakan. Sampai suatu waktu, di saat ia benar-benar kelelahan dalam separuh perjalanannya, dipanjatkannya sebuah doa kepada Tuhan, “Tuhan, izinkan aku membalaskan perasaan-ku ini kepada elang. Ia telah merebut kebahagiaanku. Izinkan aku merebut pula kebahagiaannya” panjatnya serius. Seketika itu, anak burung tersambar petir, dan tiba-tiba pula berubah menjadi seekor burung elang yang kuat dan perkasa. Di tempat yang berbeda pula, burung elang yang diincarnya itu juga disambar petir, dan kemudian berubah menjadi seekor burung mungil yang lemah.

Dengan lantang, ‘elang’ memekik, ia harus segera mencari elang itu dan membalaskan dendamnya. ‘elang’-pun tak lama setelahnya menemukan ‘burung’. Ia memiliki naluri itu, bahwa ‘burung’ ini adalah target yang ia incar selama kurun waktu hidupnya. Ia entah mengapa dapat melihat sorot tatapan mata itu. Inilah waktu yang ia tunggu2, dan hari ini semuanya terjadi begitu luar biasa, terjadi begitu singkat, dan ajaib. Siap-siap ingin diterkamnya ‘burung’. Setelah proses kejar-mengejar yang cukup alot. Akhirnya, ‘burung’ mengadu dengan nada menyayat, “Tolonglah! Kasihanilah aku! Aku begitu kecil dan lemah, jangan makan aku! Aku masih ingin hidup!” katanya.

‘elang’ menatap ‘burung’ dengan penuh selidik, kemudian dengan teliti ia cermati wajah ‘burung’ itu. Seketika, ia teringat akan ibunya, akan dendamnya, akan kebenciannya, akan rencana pembalasan dendamnya, akan doa yang ia panjatkan kepada Tuhan, dan kepada hati nuraninya, yang paling dalam…

Adalah wajahnya yang dulu, wajahnya yang ketakutan, wajah yang selalu ia ekspresikan. Kemudian tiba2, ‘elang’ bilang “Aku tidak akan hendak melahapmu, ‘burung’. Kita akan menjadi sahabat saja. Aku tidak bakal membencimu lebih lama, aku akan berhenti memikirkan rasa sakit ini. Aku akan berhenti memikir pembalasan dendam ini. Dengan rasa kebencian ini, aku rasa, aku telah hidup dalam kebencian pula. Kebencian ini telah menutup keindahan dalam hatiku, dan membuatnya membusuk. Aku akan segera berhenti! Karena membencimu hanya meracuni sisa hidupku saja, meracuni sisa hidupku yang tinggal sedikit ini. Akan aku gunakan keperkasaanku dan kekuatanku yang aku miliki sekarang ini untuk melindungimu. Kau juga sudah cukup tua”.

‘burung’ begitu terharu. Air matanya merebak dan kian sesunggukan suaranya. Ia bergetar, dirinya, tubuhnya, pikirannya, hatinya. Ia begitu menyesal, telah menjahati orang lain. Dan, sejak membunuh ibu burung, hidupnya selalu terhantui, ketakutan. Hampir2 ini ia coba melupakannya, tetapi selalu datang dalam mimpi tidur malamnya. Dan, hari ini ketika ia hampir saja mati… Ternyata Tuhan ingin membuka mata hatinya, dengan menyugukan kebaikan dari kejahatan yang pernah ia lakukan. Sungguh, ia akan melupakan bagaimana caranya berbuat jahat, dan berjanji akan mendampingi ‘elang’ untuk membayar semua rasa sakit yang ‘elang’ rasakan.

Akhirnya, ‘elang’ membawa ‘burung’ tinggal bersamanya. Mereka tinggal tak jauh dai sarang tempat ‘elang’ dilahirkan. Mereka membangun tempat tinggal yang sangat nyaman. Hidup berdampingan, makan bersama, bercengkerama bersama, dan saling melindungi. Aaah, betapa tinggal bersama mengobati kesendirian yang pernah ‘elang’ rasakan, serta mengobati penyesalan yang ‘burung’ rasakan. Mereka saling menyayangi dan bagaikan berkaca sepanjang waktu. Mereka seperti satu-kesatuan, yang saling melengkapi.

Cerita ini ditulis oleh Anggelina Purnama. Kalo mo ngomongin sejenis legend, short story, pengen nanya2 ato pengen ngasih koreksi dan belajar bareng, bisa hubungin aku di ‘Contact Me’ pada menu yaa. Boleh juga comment di bawah, like juga, please! xD.