HASIL PERCOBAAN
Warna: Tidak berwarna
Bau: Minyak pala
Volume: 1,2 mL
Massa: 1,02 gram
Densitas: 0,85 g/mL

PEMBAHASAN
Dalam percobaan berjudul “Distilasi Uap” ini dilakukan suatu percobaan dengan tujuan untuk mengisolasi minyak pala dari buah pala kering dan untuk mempelajari teknik isolasi dengan prinsip distilasi.

Pada percobaan ini mula-mula dimasukkan serbuk pala yang sebelumnya telah ditimbang ke dalam erlenmeyer bersamaan dengan batu didih. Penambahan batu didih ini bertujuan untuk meratakan panas pada larutan sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan karena dalam percobaan ini larutan dipanaskan dalam waktu yang cukup lama (60 menit) secara terus-menerus. Pori-pori pada batu didih akan membantu menangkap udara pada larutan (uap air) dan melepaskannya ke permukaan larutan sehingga akan timbul gelembung kecil pada sekitar batu didih. Batu didih tidak boleh dimasukkan pada saat larutan telah mencapai titik didihnya namun dimasukkan sebelum proses pemanasan. Hal ini dikarenakan dapat terbentuk uap panas secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar yang berpotensi menyebabkan kebakaran atau ledakan.

Dalam percobaan ini setelah semua bahan telah dicampurkan dan air telah ditambahkan pada denstak, maka erlenmeyer berisi larutan akuades dan serbuk pala dapat dipasangkan dengan alat hydrodistillation. Prinsip kerja alat hydrodistillation (distilasi dengan air) yaitu metode di mana senyawa yang akan diisolasi (dalam percobaan ini adalah minyak pala) terlebih dahulu dicampurkan dengan air, kemudian dipanaskan hingga uap dari campuran naik dan melewati pendingin bola. Pendingin bola akan mencegah uap air lolos ke atas (keluar dari pendingin bola) karena pendingin bola memiliki bentuk seperti bola sehingga uap air akan tertahan pada sekat-sekat bola tersebut sehingga tertahan di dalam pendingin bola itu sendiri. Dalam pendingin bola ini terjadi proses kondensasi (pendinginan) dan menyebabkan uap air jatuh ke penampungan yang sudah berisi air.

Apabila minyak pala hasil distilasi ini berasa di atas maka air pada bagian bawah akan terdorong ke denstak sehingga prinsipnya minyak pala hasil distilasi di bagian lapisan atas tidak akan masuk ke denstak. Fungsi denstak ini adalah untuk mencegah minyak hasil distilasi tercampur dengan air (dalam artian meluap) selain itu pula denstak juga mendorong air di bagian bawah masuk dan minyak hasil distilasi tetap berada di atas. Denstak mencegah air untuk balik ke tempat semula. Air kemudian dapat dikeluarkan dan minyak dapat diambil serta diukur volumenya berdasarkan silinder seperti buret yang sudah dilengkapi angka-angka pengukur volume.

Prinsip dari alat hydrodistillation ini pada intinya adalah sampel padat dicampurkan dengan air (akuades) dan diuapkan. Apabila dibandingkan dengan distilasi uap, distilasi uap dilakukan dengan cara sampel pada diberikan uap. Distilasi uap memiliki pengertian yaitu metode pemisahan yang melibatkan kodistilasi senyawa campuran air dan senyawa organik volatil dari senyawa nonvolatil serta dilakukan untuk senyawa yang mudah terdekomposisi pada titik didihnya. Tujuan dari hydrodistillation dan distilasi uap pada akhirnya adalah sama yaitu mengisolasi minyak hasil distilasi hanya saja memiliki metode yang sedikit berbeda. Keunggulan hydrodistillation yaitu hasil isolasi dapat langsung dipisahkan dan akuades yang digunakan terus bersirkulasi tidak seperti pada distilsi uap di mana air yang digunakan banyak (terus mengalir) dalam bentuk uap air.

Fungsi penambahan air pada denstak sebelumnya yaitu agar terjadi sirkulasi air ketika minyak hasil distilasi turun. Air untuk sirkulasi seperti pada kondensor dialiri dari bawah tidak dari atas. Hal ini bertujuan agar terjadi tekanan yag optimal dan air dapat terisi sempurna sedangkan bila dialiri dari atas tidak akan terjadi tekanan dan menjadi tidak optimal, dapat timbul rongga, gelembung, dan sebagainya. Sirkulai air dalam percobaan ini sangat penting untuk membuang uap panas pada saat proses kondensasi dan agar proses pendinginan dapat berlangsung maksimal.

Larutan campuran ini akan memiliki volume yang kurang lebih sama karena pada akhirnya uap air akan kembali ke erlenmeyer hanya saja minyak pala yang terekstraksi.

Pada percobaan ini didapatkan volume minyak pala hasil distilasi sebesar 1,2 mL dan ketika dilakukan penimbangan didapatkan massanya sebesar 1,02 gram sehingga dapat dihitung massa jenis/densitas-nya dengan membagi massa terhadap volume dan didapat densitas minyak pala sebesar 0,85 g/mL.

Dalam percobaan “Pengambilan Minyak Atsiri dari Biji Pala Myristica fragras dengan Proses Distilasi Uap” oleh Rochman dkk., (2008) dilakukan pengambilan minyak atsiri dari biji pala dengan metode distilasi uap untuk tujuan membuat neraca masa dan energi pada pengambilan minyak atsiri dengan proses distilasi uap. Biji pala awalnya dipotong ±1cm, dijemur, diangin-anginkan, kemudian dilakukan proses penyulingan yang pada akhirnya menghasilkan minyak pala dengan jumlah paling banyak pada waktu penyulingan dengan variabel tumbuk acak dengan menggunakan distributor spray 7 mL. Jumlah rendemen yang didapat rata-rata adalah 69,5575% dan dengan densitas 0,9021 kg/L dengan kadar air pada biji pala 13%.

Apabila dibandingkan antara densitas hasil percobaan dengan densitas berdasarkan hasil peneltian menurut Rochman dkk., (2008) maka nilai rentang/selisih-nya masih cukup jauh. Hasil percobaan yaitu 0,85 g/mL dan hasil penelitian Rochman dkk., sebesar 0,9021 g/mL. Hal ini dapat pula menandakan bahwa kemungkinan minyak pala hasil percobaan lebih murni dibanding minyak pala hasil pengambilan oleh Rochman dkk., karena tingginya kadar air pada percobaan tersebut sehingga akan menjadi tidak akurat.

Unsur kimia yang terkandung dalam minyak pala adalah fatty acid yang komposisi kiminya terdiri dari asam miristat (95%), asam oleat (4,0%), dan asam linoleat (1%). Komposisi terbesar minyak pala adalah berturut-turut asam miristik, asam oleat, dan terakhir asam linoleat. Berikut struktur dua dari ketiganya:

oleic_acid_shorthand_formula
Asam Oleat (C18H34O2)
linoleic_acid_shorthand_formula
Asam Linoleat (C18H32O2)

Ketiga jenis fatty acid tersebut mnyusun komposisi pada minyak pala. Ketiga fatty acid di atas semuanya berupa rantai C panjang dengan gugus karboksilat. Pada asam oleat terdapat ikatan C rangkap 2 sebanyak 1 dan ada asam linoleat terdapat ikatan C rangkap 2 sebanyak 2.

KESIMPULAN
1. Isolasi minyak pala dari buah pala kering dapat dilakukan dengan alat hydrodistillation dan didapatkan densitas minyak pala hasil percobaan sebesar 0,85 g/mL, berbau minyak pala, dan tidak berwarna.
2. Teknik isolasi dengan prinsip distilasi ini yaitu sampel padat dicampurkan dengan air kemudian diuapkan, didinginkan di kondensor, dan minyak hasil isolasi didapat.