MAKNA KETAHANAN PANGAN UNTUK PERTANIAN BERBASIS PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI YANG MENGEDUKASI MASYARAKAT INDONESIA
Oleh: Anggelina Purnama

KETAHANAN pangan suatu negara mencerminkan kemampuan suatu negara mengelola pangan di negara tersebut. Kata ‘mengelola’ mengartikan suatu negara mampu mengatur apa, kapan, siapa, di mana, mengapa, dan bagaimana. Suatu negara boleh saja tidak bisa menghasilkan sumber daya alam tertentu yang mencukupi kebutuhan negara tersebut. Misalkan kebutuhan akan beras atau kedelai. Namun, ketahanan pangan diartikan sebagai cara suatu negara memenuhi apa yang kurang. Contohnya, untuk memenuhi kebutuhan akan kedelai, Indonesia memilih mengimpor kacang kedelai dari Amerika. Hal ini disebabkan karena produksi di Indonesia yang belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi kacang kedelai penduduknya serta kondisi alam yang tidak memungkinkan budidaya kedelai. Cara seperti ini sah-sah saja dan merupakan salah satu cara Indonesia untuk melakukan ketahanan pangan di negaranya.

Menilik dari suatu sudut pandang tertentu, maka ketahanan pangan suatu negara adalah cara suatu negara untuk survive akan apa yang dibutuhkannya. Butuh beras, namun kekurangan. Maka, negara dapat mengeluarkan suatu kebijakan untuk impor ataukah melakukan hal lain yang disesuaikan dengan kondisi negaranya masing-masing.

Lalu, mucul pertanyaan di benak kita, bagaimana ketahanan pangan di Indonesia sendiri? Indonesia terkenal akan letaknya yang sangat strategis untuk perdagangan. Hal ini sudah diketahui hampir seluruh bagian dari dunia. Bukti empirisnya adalah dilakukannya ekspedisi Portugis ke Maluku tahun 1521 setelah sebelumnya menguasai Melaka (kini menjadi salah satu provinsi di Malaysia). Ekspedisi ini sederhananya dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk melakukan perdagangan, karena Indonesia memiliki banyak pelabuhan yang cocok untuk dilakukan proses pendaratan. Setelah melakukan perdagangan, Portugis mulai tahu bahwa Nusantara (nama wilayah Indonesia dahulu), memiliki kelimpahan sumber daya alam yang luar biasa, salah satunya yaitu rempah-rempah.

Apakah rempah-rempah ini? Rempah-rempah ini adalah salah satu jenis pangan. Biasanya digunakan untuk penguat rasa dalam masakan, misalnya kunyit, lengkuas, jahe, pala, ketumbar, dan beberapa jenis lainnya. Bangsa-bangsa Eropa bertujuan mendapatkan rempah-rempah ini untuk tujuan makanan dan pengobatan. Pengobatan kita ketahui merupakan salah satu parameter peningkatan tingkat kesehatan suatu negara. Hal ini yang menyebabkan kedatangan negara-negara Eropa seperti Portugis, Inggris, dan Belanda untuk menguasai Nusantara serta terjadi kolonialisme dan imperialisme. Mengapa mereka harus datang sampai ke daerah-daerah Asia, terkhusus Indonesia? Karena berdasarkan letak geografis ini, Indonesia berada dekat khatulistiwa sehingga proses penyinaran oleh matahari cenderung sempurna, merupakan kawasan tektonik sehingga lahannya cenderung cocok untuk lahan pertanian (subur), serta mudah dijangkau karena berada di posisi silang (berada di antara 2 benua, Asia dan Australia serta berada di antara 2 samudera, Hindia dan Pasifik sehingga dikelilingi laut yang luas.

Pada tahun 2016 ini, maka terhitung sudah 71 tahun Indonesia merdeka. Merdeka berarti Indonesia sudah terbebas dari kolonialisme dan imperialisme. Namun, akhir-akhir ini arti ‘merdeka’ mulai sering dipertanyakan dan akhirnya dikaji ulang. Indonesia memang telah merdeka dalam arti fisik, tidak dikuasai lagi oleh negara tertentu dan dapat menjalankan pemerintahannya sendiri. Tetapi, Indonesia sering dianggap belum merdeka secara mentalitas. Hal ini dimaksudkan karena cara berpikir bangsa Indonesia. Cara berpikir ini misalkan, lebih baik mengimpor daripada mengusahakannya. Sederhananya, Indonesia kaya akan potensi lautnya yang luas. Namun, kita masih mengimpor garam dari Singapura. Hal lainnya, misalkan lebih baik mengekpor bahan mentah daripada mengolahnya. Hal ini dikarenakan rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia disertai dengan tidak adanya kebijakan yang jelas terkait usaha mengolah sumber daya alam tersebut.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi Indonesia, mulai dari kurangnya kualitas sumber daya manusia sampai teknologi dan kebijakan menjadikan Indonesia memiliki ketahanan pangan yang rendah. Peringkat ketahanan pangan Indonesia berada pada posisi ke 71 dari 113 negara yang diuji berdasarkan data Gobal Security Index (GFSI) yang dirilis oleh The Economist Intellegence Unit[1]. Sebagian orang mungkin menyimpulkan angka ini cukup meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang sekitar peringkat 76 ke bawah. Peringkat hanya menjadi angka, namun keadaaan real yang menjadi kunci. Pertanyaannya, masihkah ada kelaparan dan masalah gizi di Indonesia? Selama jawabannya ‘Ya’, maka ketahanan pangan belum dalam kategori yang baik.

Belgia tidak memiliki pohon cokelat yang baik, namun mereka mampu menciptakan cokelat terenak di dunia. Mengapa mereka dapat membuat cokelat terenak di dunia? Jawabannya adalah karena mereka tidak memiliki pohon cokelat yang baik. Hal ini menandakan Belgia memiliki pemikiran bahwa keterbatasan menjadi tantangan untuk menghasilkan yang terbaik. Indonesia masih impor daging ayam dari Malaysia, padahal lahan untuk membangun peternakan di Indonesia masih mumpuni. Sarjana dan ahli peternakan di Indonesia banyak. Mulai dari sarjana dan ahli peternakan untuk mengatur proses menernak ayam potong, sarjana dan ahli ilmu pangan serta ilmu gizi mengontrol makanan ayam potong, dokter hewan memeriksa kesehatan ternak ayam potong, sarjana dan ahli kimia menjadi pengontrol kualitas daging ayam potong, dan seterusnya. Ketahanan pangan ini berlangsung from farmer to plate, artinya kualitas tersebut harus terjaga dari produsen ke konsumen. Maka, ketahanan pangan semakin baik apabila suatu negara mampu meningkatkan kualitas pangan negaranya.

Tantangan terbesar Indonesia yang lainnya adalah Indonesia pernah melakukan swasembada pangan tahun 1984 hingga mendapat penghargaan oleh FAO (Food Agriculture Organization) tahun 1985. Tidak ada yang salah dengan swasembada ini, atau mungkin timbul pertanyaan “Mengapa dulu bisa, sekarang tidak?”. Maka, untuk dapat mengetahui permasalahan sebenarnya kita harus terjun langsung ke lapangan. Swasembada yang pernah dilakukan Indonesia tersebut sebagai misi Pelita IV dalam sektor pertanian di masa orde baru meninggalkan berbagai akibat. Akibat ini dikarenakan untuk mencapai swasembada tahun 1984, petani menggunakan pupuk berlebihan. Hasil akhirnya, penggunaan pupuk berlebihan menjadikan lahan pertanian tidak lagi subur ataupun untuk menyuburkannya kembali harus dengan penggunaan pupuk lebih banyak.

Berdasarkan masalah yang ada, maka Indonesia harus menjadikan ketahanan pangan sebagai tantangan. Tantangan ini harus dihadapi dengan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan yang baik menghasilkan kualitas manusia yang baik, kualitas manusia yang baik akan menciptakan trigger penggunaan maupun penciptaan teknologi yang baik. Seiring peningkatan mutu pendidikan, pemerintah harus membuat kebijakan dalam pengolahan sumber daya alam yang jelas. Misalkan, menciptakan pabrik garam di titik-titik daerah penghujung yang dekat laut (pantai) untuk memproduksi garam. Kebijakan ini harus diatur tegas dan kuat dalam undang-undang ataupun peraturan sejenisnya. Hal yang dapat dikaji lainnya adalah pemenuhan akan ketahanan pangan tidak boleh menjadikan kita lupa akan keadaan lingkungan. Pengelolaan limbah, penggunaan pupuk dan pestisida, treatment kembali ke lingkungan berbasis green chemistry harus diterapkan. Hal ini adalah indikator penting dalam ketahanan pangan.

REFERENSI
[1]http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/07/26/560228/ketahanan-pangan-indonesia-naik-ke-peringkat-71

17098382_1415863531789467_2674541501081401043_n
Poster Lomba Esai KEN AROK 2017

Sumber gambar: http://www.kammiunj.tumblr.com/

Esai ini telah saya ikutsertakan dalam “Lomba Esai KEN AROK (Kammiunj Esai Nasional Atasi pROblem Kekinian)” dengan meraih juara 10 dalam kategori “20 Karya Terbaik” dan akan segera dibukukan.

(This essay has been participated in “Lomba Esai KEN AROK (Kammiunj Esai Nasional Atasi pROblem Kekinian)” with the 10th best essay predicate in the category of “20 Best Essays” and will be soon published as a book).

17016959_1415863528456134_3342809243884519766_o

Saya berjanji akan terus belajar dan berusaha menjadi yang terbaik dengan terus ikut berkompetisi dan berinovasi demi mengembangkan kemampuan saya.